Definisi
Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses
penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada
pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang
dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang
dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan
menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi
nonverbal.
Onong Uchjana Effendy
Komunikasi adalah proses
penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu,
mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun
tidak langsung (melalui media).
Analisis Pengertian Komunikasi Dan 5 (Lima) Unsur Komunikasi
Menurut Harold Lasswell Sat, 10/11/2007 – 6:54pm — Rejals Analisis Definisi
Komunikasi Menurut Harold Lasswell.
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses
yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa?
dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with
what effect?). (Lasswell 1960).
Raymond Ross
Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan
pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan
respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan
oleh komunikator.
Gerald R. Miller
Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan
pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk memengaruhi perilaku mereka.
Everett M. Rogers
Komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari
satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku mereka.
Carl I. Hovland
Komunikasi adalah suatu proses yang memungkinkan
seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambang verbal)
untuk mengubah perilaku orang lain.
New Comb
Komunikasi adalah
transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari
sumber kepada penerima.
Bernard Barelson & Garry A. Steiner
Komunikasi adalah proses transmisi informasi,
gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol,
kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.
Colin Cherry
Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling
menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi
merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan
pembangkitan balasannya.
Definisi komunikasi : Menurut Forsdale
(1981) seorang ahli pendidikan terutama ilmu komunikasi : Dia menerangkan
dalam sebuah kalimat bahwa “communication is the process by which a system is
established, maintained and altered by means of shared signals that operate
according to rules”. Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu sistem
dibentuk, dipelihara, dan diubah dengan tujuan bahwa sinyal-sinyal yang
dikirimkan dan diterima dilakukan sesuai dengan aturan.
Analisis : Komunikasi adalah sebuah cara yang
digunakan sehari-hari dalam menyampaikan pesan/rangsangan(stimulus) yang
terbentuk melalui sebuah proses yang melibatkan dua orang atau lebih. Dimana
satu sama lain memiliki peran dalam membuat pesan, mengubah isi dan makna,
merespon pesan/rangsangan tersebut, serta memeliharanya di ruang publik. Dengan
tujuan sang “receiver” (komunikan) dapat menerima sinyal-sinyal atau pesan yang
dikirimkan oleh “source” (komunikator).
William J. Seller
William J.Seller mengatakan bahwa komunikasi adalah
proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.
Dimensi
Komunikasi
PRINSIP 1 : Komunikasi Adalah Proses
Simbolik
Salah satu kebutuhan pokok manusia , seperti
dikatakan Susanne K. Langer, adalah kebutuhan simbolis atau penggunaan lambang.
Manusia memang satu-satunya hewan yang menggunakan lambang , dan itulah yang
membedakan manusia dengan hewan lainnya. Ernest Cassirer mengatakan bahwa
keunggulan manusia atau mahluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai
animal symbolicum.
Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu
lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata
(pesan verbal), perilaku non verbal, dan objek yang maknanya disepakati
bersama. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan
bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek (baik nyata maupun
abstrak) tanpa kehadiran manusia atau objek tersebut.
Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek
dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak
memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi)
yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi ini ditandai dengan
kemiripan misalnya patung Soekarno adalah ikon Soekarno, dan foto Anda pada KTP
Anda adalah ikon Anda.
Berbeda dengan lambang dan ikon, indeks adalah tanda yang secara alamiah
merepresentasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk
indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga
gejala (symptom). Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat
yang punya kedekatan eksistensi. Misalnya awan gelap adalah indeks hujan akan turun,
sedangkan asap merupakan indeks api. Namun bila asap itu disepakati sebagai
tanda bagi masyarakat untuk berkumpul misalnya, seperti dalam kasus suku
primitif, maka asap menjadi lambang karena maknanya telah disepakati bersama.
Lambang mempunyai beberapa sifat sebagai berikut.
1. Lambang bersifat sebarang, manasuka, atau sewenang-wenang.
2. Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna; kitalah yang memberi makna pada
lambang.
3. Lambang itu bervariasi
PRINSIP 2 : Setiap Perilaku Mempunyai
Potensi Komunikasi
Kita tidak dapat berkomunikasi (we cannot
communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Alih-alih,
komunikasi terjadi bila seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau
perilakunya sendiri.
Cobalah Anda minta seseorang untuk tidak berkomunikasi. Amat sulit baginya
untuk berbuat demikian, karena setiap perilakunya punya potensi untuk di
tafsirkan. Kalau ia tersenyum, ia ditafsirkan bahagia; kalau ia cemberut, ia
ditafsirkan ngambek. Bahkan ketika kita berdiam diri sekalipun, ketika kita
mengundurkan diri dari komunikasi dan lalu menyendiri, sebenarnya kita
mengomunikasikan banyak pesan. Orang lain mungkin akan menafsirkan diam kita
sebagai malu, segan, ragu-ragu, tidak setuju, tidak peduli, marah, atau bahkan
sebagai malas atau bodoh.
Ketika anda melihat seorang pria yang berdiri di pantai seraya memandang laut
lepas dengan melipat kedua tangan di dada, Anda mungkin punya penafsiran khusus
terhadap orang itu, misalnya bahwa ia orang yang sedang frustasi, kesepian,
romantis, ingin sendirian dan tidak mau diganggu, mencari ilham untuk menulis
puisi, dan sebagainya. Seorang tamu restoran yang makan dengan tidak
mengucapkan sepatah kata pun kepada orang yang ia temui menampilkan perilaku
yang potensial untuk ditafsirkan, misalnya bahwa ia sedang marah, frustasi,
patah hati, sakit gigi atau bisu.
PRINSIP 3 : Komunikasi Punya Dimensi Isi
dan Dimensi Hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara
dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi)
komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan
bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para
komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.
Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan dimensi
hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang
digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu berita atau artikel
dalam surat kabar, misalnya, hanya bukan bergantung pada isinya, namun juga
pada siapa, penulisnya, tata letak (lay out)-nya, jenis huruf yang digunakan,
warna tulisan, dan sebagainya.
PRINSIP 4 : Komunikasi Berlangsung dalam
Berbagai Tingkat Kesengajaan
Komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat
kesengajaan, dari komunikasi yang tidak disengaja sama sekali hingga komunikasi
yang benar-benar direncanakan dan disadari. Kesengajaan bukanlah syarat untuk
berkomunikasi. Membatasi komunikasi sebagai proses yang disengaja adalah
menganggap komunikasi sebagai instrumen, seperti dalam persuasi.
Jadi, niat atau kesengajaan bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk
berkomunikasi. Dalam komunikasi secara antara orang-orang berbeda budaya
ketidaksengajaan berkomunikasi ini lebih relevan lagi untuk diperhatikan.
Banyak kesalahpahaman antarbudaya sebenarnya disebabkan oleh perilaku seseorang
yang tidak disengaja yang dipresepsi, ditafsirkan dan direspons oleh orang dari
budaya lain.
PRINSIP 5 : Komunikas Terjadi dalam Konteks
Ruang dan Waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan
ruang (termasuk iklim, suhu intensitas cahaya, dan sebagainya), waktu, sosial
dan psikologis. Waktu mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Kunjugan seorang
mahasiswa kepada teman kuliahnya yang wanita pada malam minggu akan dimaknai
lain bila dibandingkan dengan kedatangannya pada malam biasa.
Kehadiran orang lain, sebagai konteks sosial juga akan mempengaruhi orang-
orang yang berkomunikasi. Pengaruh konteks waktu dan konteks sosial terlihat
pada suatu keluarga yang tidak pernah tersenyum atau menyapa siapapun pada
hari-hari biasa, tetapi mendadak menjadi ramah pada hari-hari lebaran. Penghuni
rumah membuka pintu rumah mereka lebar-lebar, dan mempersilahkan tamu untuk
mencicipi makanan dan minuman yang mereka sediakan.
Suasana psikologis peserta komunikasi tidak pelak mempengaruhi juga suasana
komunikasi. Komentar seorang istri mengenai kenaikan harga kebutuhan rumah
tangga dan kurangnya uang belanja akan ditanggapi dengan kepala dingin oleh
suaminya dalam keadaan biasa atau keadaan santai, boleh jadi akan membuat sang
suami berang bila istri menyampaikan komentar tersebut saat suami baru pulang
kerja dan dimarahi habis-habisan oleh atasannya hari itu.
PRINSIP 6 : Komunikasi Melibatkan Prediksi
Peserta Komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan
efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh
aturan atau tatakrama. Artinya, orang-orang memilih strategi tertentu
berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespons. Prediksi ini
tidak selalu disadari, dan sering berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi
perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya.
Prinsip ini mengansumsikan bahwa hingga derajat tertentu ada keteraturan pada
perilaku komunikasi manusia. Dengan kata lain, perilaku manusia, minimal secara
parsial, dapat diramalkan. Kalau semua perilaku manusia itu bersifat acak,
selalu tanpa diduga hidup kita akan sulit.
PRINSIP 7 : Komunikasi Bersifat Sistematik
Terdapat dua sistem dasar dalam transaksi
komunikasi, yaitu Sistem Internal dan Sistem Eksternal. Sistem internal adalah
seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam
komunikasim yang ia cerap selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan
sosialnya (keluarga, masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok agama,
lembaga pendidikan, kelompok sebaya, tempat kerja, dan sebagainya).
Istilah-istilah lain yang identik dengan sistem internal ini adalah kerangka
rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (field of experience), struktur
kognitif (cognitive structure), pola pikir (thinking patterns), keadaan
internal (internal states), atau sikap (attitude). Pendeknya, sistem internal
ini mengandung semua unsur yang membentuk individu yang unik, termasuk
ciri-ciri kepribadiannya, intelegensi, pendidikan, pengetahuan, agama, bahasa,
motif, keinginan, cita-cita, dan semua pengalaman masa lalunya, yang pada
dasarnya tersembunyi.
Berbeda dengan sistem internal, sistem eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam
lingkungan di luar individu, termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara,
isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan disekitarnya, penataan ruangan,
cahaya, dan temperatur ruangan. Elemen-elemen ini adalah stimuli publik yang
terbuka bagi setiap peserta komunikasi dalam setiap transaksi komunikasi. Akan
tetapi, karena masing-masing orang mempunyai sistem internal yang berbeda, maka
setiap orang tidak akan memiliki bidang perseptual yang sama, meskipun mereka
duduk di kursi yang sama dan menghadapi situasi yang sama.
Maka dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah produk dari perpaduan antara
sistem internal dan siste eksternal tersebut. lingkungan dan objek mempengaruhi
komunikasi kita, namun persepsi kita atas lingkungan kita juga mempengaruhi
cara kita berperilaku.
PRINSIP 8 : Semakin Mirip Latar Belakang
Sosial-Budaya Semakin Efektiflah Komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang
hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang
berkomunikasi). Misalnya, penjual yang datang kerumah untuk mempromosikan
barang dianggap telah melakukan komunikasi efektif bila akhirnya tuan rumah
membeli barang yang ia tawarkan, sesuai yang diharapkan penjual itu, dan tuan
rumah pun merasa puas dengan barang yang dibelinya.
Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama, meskipun
mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga yang sama, diberi makan
yang sama dan dididik dengan cara yang sama. Namun kesamaan dalam hal-hal
tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat
ekenomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya
karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif. Kesamaan
bahasa khususnya akan membuat orang-orang yang berkomunikasi lebih mudah
mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memahami
bahasa yang sama.
PRINSIP 9 : Komunikasi Bersifat
Nonsekuensial
Meskipun terdapat banya model komunikasi linier
atau satu arah, sebenarnya komunikasi manusia dalam bentuk dasarnya (komunikasi
tatap-muka) bersifat dua-arah (sifat sirkuler). Ketika seseorang berbicara
kepada seseorang lainnya, atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat atau
kuliah, sebetulnya komunikasi itu bersifat dua-arah, karena orang-orang yang
kita anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi
“pembicara” atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku
nonverbal mereka.
Meskipun sifat sirkuler digunakan untuk menandai proses komunikasi, unsur-unsur
proses komunikasi sebenarnya tidak berpola secara kaku. Pada dasarnya,
unsur-unsur tersebut tidak berada dalam suatu tatanan yang bersifat linier,
sirkuler, helikal atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh
jadi beroperasi dalam susanan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagian,
dalam suatu tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih
sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.
PRINSIP 10 : Komunikasi Bersifat Prosesual,
Dinamis, dan Transaksional
Komunikasi sebagai proses dapat dianalogikan dengan
pernyataan Herclitus enam abad sebelum Masehi bahwa “seorang manusia tidak akan
pernah melangkah di sungai yang sama dua kali.” Pada saat yang kedua itu,
manusia itu berbeda, dan begitu juga sungainya. Ketika kita menyebrang sungai
untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya pada hari yang lan, maka
sesungguhnya penyebrangan itu bukanlah fenomena yang sama. Begitu jugalah
komunikasi; komunikasi terjadi sekali waktu kemudian menjadi bagian dari
sejarah kita.
Dalam proses komunikasi itu, para peserta saling mempengaruhi, seberapa kecil
pun pengaruh itu, baik lewat komunikasi verval ataupun lewat komunikasi
nonverbal. Pernyataan sayang, pujian, ucapan selamat, penyesalan, atau
kemarahan akan membuat sikap atau orientasi mitra komunikasi kita berubah
terhadap kita, dan pada gilirannya perubahan orientasinya itu membuat orientasi
kita juga berubah terhadapnya, dan begitu seterusnya.
Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah
bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekedar berubah pengetahuan hingga
berubah pandangan dan perilakunya). Ada orang yang perubahannya sedikit demi
sedikit dari waktu ke waktu, tetapi perubahan akhirnya (secara kumulatif) cukup
besar. Namun ada juga orang yang berubah secara tiba-tiba, melalui cuci otak
atau kontroversi agama, misalnya dari seorang nasionalis menjadi komunis, atau
dari Hindu menjadi Kristen atau Muslim.
Implisit dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses penyandian
(encoding) dan penyandian-balik (decoding). Kedua proses itu, meskipun secara
teoritis dapat dipisahkan, sebenarnya terjadi serempak, bukan bergantian.
Keserempakan inilah yang menandai komunikasi sebagai transaksi.
Pandangan dinamis dan transaksional memberi penekanan bahwa Anda mengalami
perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi. Pernahkan anda terlibat dalam
perdebatan sengit sehingga semakin keras Anda katakan betapa marahnya Anda,
semakin marah pula Anda. Jadi, perspektif transaksional memberi penekanan pada
dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling mempengaruhi. Para
pesertanya menjadi saling bergantung, dan komunikasi mereka hanya dapat
dianalisis berdasarkan konteks peristiwanya.
PRINSIP 11 : Komunikasi Bersifat
Irreversible
Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena
merupakan suatu peristiwa, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat
“diambil kembali.” Bila anda memukul wajah seseorang dan meretakkan hidungnya,
peristiwa tersebut dan konsekuensinya telah “terjadi”; Anda tidak dapat memutar
kembali jarum jam dan berpura-pura seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi.
Senada dengan peristiwa di atas, dalam komunikasi, sekali Anda mengirimkan
pesan, Anda tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayak,
apalahi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali.
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang
selalu berubah. Prinsip ini seyogianya menyadarkan kita bahwa kita harus
hati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab, yaitu tadi,
efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya.
Apalagi bila penyampaian itu dilakukan untuk pertama kalinya. Curtis et al.,
mengatakan bahwa kesan pertama itu cenderung abadi.
Dalam komunikasi massa, sekali wartawan menyiarkan berita yang tanpa disengaja
mencemarkan nama baik seseorang, maka nama baik orang itu akan sulit
dikembalikan lagi ke posisi semula, meskipun surat kabar, majalah, radioatau
televisi telah meminta maaf dan memuat hak jawab sumber berita secara lengkap.
PRINSIP 12 : Komunikasi Bukan Panasea untuk
Menyelesaikan Berbagai Masalah
Banyak persoalan dan konflik antarmanusia
disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat
mujarab) untuk menyelasaikan persoalan atau tersebut mungkin berkaitan dengan
masalah struktural. Agar komunikasi efektif, kendala struktural ini juga harus
diatasi. Misalnya, meskipun pemerintah bersusah payah menjalin komunikasi yang
efektif dengan warga Aceh dan warga Papua, tidak mungkin usaha itu akan
berhasil bila pemerintah memberlakukan masyarakat di wilayah-wilayah itu secara
tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengangkutnya ke pusat.
Definisi
Leadership

Pada dasarnya definisi atau
pengertian kepemimpinan ( leadership ) telah banyak dikemukakan para pakar atau
akhli di bidang manajemen sumber daya manusia. Definisi atau pengertian
kepemimpinan ( leadership ) banyak yang dikutip oleh Thoha (2006 : 5) dari
berbagai pakar atau ahlii, antara lain sebagai berikut: (1) Menurut Robert
Dubin definisi atau pengertian kepemimpinan diartikan sebagai pelaksanaan
otoritas dan pembuatan keputusan, (2) Menurut J.L. Hemphill:definisi atau
pengertian kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertindak yang
menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencapai jalan pemecahan
dari suatu persoalan bersama, (3) George R. Terry memberikan definisi atau
pengertian kepemimpinan sebagai aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya
diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi. Yukl G. (2001 : 3) mengatakanbahwa
istilah kepemimpinan adalah kata yang diambil dari kata-kata yang umum dipakai
dan merupakan gabungan dari kata ilmiah yang tidak didefinisikan kembali secara
tepat. Penelitian biasanya mendefinisikan kepemimpinan sesuai dengan prespektif
individualnya dan aspek gejala yang paling menarik perhatiannya. Setelah
melakukan peninjauan mendalam terhadap literatur kepemimpinan. Selain definisi
atau pengertian kepemimpinan ( leadership ) yang dikutip Thoha, terdapat pula
beberapa definisi atau pengertian kepemimpinan yang dikutip oleh Yukl G (2001 :
. 4), antara lain : (1) Kepemimpinan adalah “perilaku individu … yang
mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama” (Hemphill &
Coons, 1957 : . 7), (2) Kepemimpinan adalah “pengaruh tambahan yang melebihi
dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin
(D. Katz & Kahn, 1978 : . 528), (3) Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran (Rauch &
Behling, 1984 : . 46) ; (4) kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan
(arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang
dikeluarkan untuk mencapai tujuan (Jacobs & Jaques, 1990, p. 281).; (5)
Kepemimpinan adalah cara mengartikulasi visi, mewujudkan nilai, dan menciptakan
lingkungan guna mencapai sesuatu” (Richards & Eagel, 1986 : 4) ; (6)
Kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi memotivasi, dan
membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan
keberhasilan organisasi … (House et. Al., 1999 : 184). Menurut Handoko (2000 :
294) definisi atau pengertian kepemimpinan telah didefiinisikan dengan berbagai
cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula. Menurut Stoner,
kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan
pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling
berhubungan tugasnya. Ada tiga implikasi penting dari definisi tersebut, antara
lain: Pertama, kepemimpinan menyangkut orang lain – bawahan atau pengikut.
Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpinan, para anggota
kelompok membantu menentukan status/kedudukan pemimpin dan membuat proses
kepemimpinan dapat berjalan. Tanpa bawahan, semua kualitas kepemimpinan seorang
manajer akan menjadi tidak relevan. Kedua, kepemimpinan menyangkut suatu
pembagian kekuasaan yang tidak seimbang di antara para pemimpin dan anggota
kelompok. Para pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan berbagai kegiatan
para anggota kelompok, tetapi para anggota kelompok tidak dapat mengarahkan
kegiatan-kegiatan pemimpin secara langsung, meskipun dapat juga melalui
sejumlah cara secara tidak langsung. Ketiga, pemimpin mempergunakan pengaruh.
Dengan kata lain, para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang
harus dilakukan tetapi juga dapat memepengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan
perintahnya.
Teori
X dan Y Douglas Mcgregor
Teori prilaku adalah teori yang
menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan
pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas
McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin
organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai /
karyawan yaitu teori x atau teori y.
A. Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang
tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan
perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam
bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat
bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.
Teori X menyatakan bahwa sebagian besar orang-orang ini lebih suka diperintah,
dan tidak tertarik akan rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas
segalanya. Lebih lanjut menurut asumís teori X dari McGregor ini bahwa
orang-orang ini pada hakekatnya adalah :
1. Tidak menyukai bekerja
2. Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih
menyukai diarahkan atau diperintah
3. Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah-masalah
organisasi.
4. Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
5. Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan
organisasi..
Untuk menyadari kelemahan dari asumí teori X itu maka McGregor memberikan
alternatif teori lain yang dinamakan teori Y.
B. Teori Y
Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya
kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam
secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk
bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas,
imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas
pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi
diri yang dimiliki dalam bekerja.
Ini adalah salah satu teori kepemimpinan yang masih banyak penganutnya. Menurut
McGregor, organisasi tradisional dengan ciri-cirinya yang sentralisasi dalam
pengambilan keputusan, terumuskan dalam dua model yang dia namakan Theori X dan
Teori.Y.
Teori Y ini menyatakan bahwa orang-orang pada hakekatnya tidak malas dan dapat
dipercaya, tidak seperti yang diduga oleh teori X. Secara keseluruhan asumís
teori Y mengenai manusia adalah sbb :
1. Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan
kepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan
mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama
menyenangkan.
2. Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam
rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi.
3. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan
organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
4. Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan sosial, penghargaan dan
aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan
keamanan.
5. Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika
dimotivasi secara tepat.
Teori sistem
4 Rensis Likert
Sebagai pengembangan, maka para ahli berusaha dapat menentukan mana di antara
kedua gaya kepemimpinan itu yang paling efektif untuk kepentingan organisasi
atau
perusahaan. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam menjalankan gaya
kepemimpinan adalah empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis
Likert. Empat sistem
tersebut terdiri dari:
- Sistem 1, otoritatif dan eksploitif :
manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah
para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara
kaku ditetapkan oleh manajer.
- Sistem 2, otoritatif dan benevolent:
manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan
untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Bawahan juga
diberiberbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam
batas-batas dan
prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.
- Sistem 3, konsultatif:
manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah
hal-hal
itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat
keputusankeputusan
mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih
digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.
- Sistem 4, partisipatif :
adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana
organisasi
seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja
dibuat
oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat keputusan, mereka
melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota
kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan
penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada
bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting.
Theory of
Leadership Pattern Choice by Tannem Bawm
Bagaimana bisa seorang manajer mengatakan gaya
manajemen apa yang digunakan? Pada tahun 1957, Robert Tannenbaum dan Warren
Schmidt menulis salah satu artikel yang paling revolusioner yang pernah muncul
dalam The Harvard Business Review. Artikel ini, berjudul "Bagamana Memilih
sebuah Pola Kepemimpinan, adalah signifikan dalam bahwa itu menunjukkan gaya
kepemimpinan adalah pilihan manajer. Di bagian atas diagram di bawah ini anda
akan melihat akrab "Hubungan Oriented" dan "Tugas
Berorientasi" kontinum, yang juga diberi label "Demokrasi" dan
"otoriter."
Diagram menunjukkan dimensi lain: "Sumber Otoritas". Pada akhir
demokratis diagram, manajer memungkinkan kebebasan karyawan. Pada akhir
otoriter diagram kita melihat bahwa manajer adalah satu-satunya sumber
otoritas. Kita pergi dari otoritas buruh untuk otoritas manajer.
berkaitan dengan masalah gaya kepemimpinan dan dengan pertanyaan seperti
manajer dapat demokratis terhadap bawahan, namun mempertahankan otoritas yang
diperlukan dan kontrol. untuk tujuan analisis mereka telah menghasilkan sebuah
kontinum perilaku kepemimpinan mulai dari autoritarian styeles di satu ekstrem
ke gaya demokratis di sisi lain, yang mereka sebut bos s-berpusat dan berpusat
pada bawahan tidak seperti orang lain model kepemimpinan berusaha untuk
menyediakan kerangka kerja untuk analisis dan pilihan individu.
para penulis mengusulkan tiga faktor utama yang menjadi pilihan tergantung pola
kepemimpinan:
1. kekuatan di manajer (egattitudes, kepercayaan, nilai-nilai)
2. kekuatan di bawahan (egtheir sikap, kepercayaan, nilai dan harapan dari
pemimpin)
3. kekuatan dalam situasi (egpreasure dan kendala yang dihasilkan oleh
tugas-tugas, iklim organisasi dan lain-lain faktor extrancous).
Tujuh "pola kepemimpinan" yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan
Schmidt. Pola kepemimpinan ditandai dengan angka-angka di bagian bawah diagram
ini mirip dengan gaya kepemimpinan, tetapi definisi dari masing-masing terkait
dengan proses pengambilan keputusan.
Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh
penggunaan wewenang oleh bawahan.
Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan
wewenang oleh pemimpin.
Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya
demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
Kepemimpinan Pola 1: "Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas
yang ditentukan oleh superior."
Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa
sering untuk bertemu.
Kepemimpinan Pola 2: "Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta
kelompok untuk membuat keputusan."
Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali
seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
Kepemimpinan Pola 3: "Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok
menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan."
Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu,
maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
Kepemimpinan Pola 4: "Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk
kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok."
Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik
untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
Kepemimpinan Pola 5: "Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang
pertanyaan."
Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari
Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka
memiliki pertanyaan.
Kepemimpinan Pola 6: "Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan
kelompok bahwa keputusan yang benar."
Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada
hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah hari-hari
terbaik untuk bertemu.
Kepemimpinan Pola 7: "Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke
grup."
Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka
suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.
sumber:
Mulyana, Deddy.2006.Suatu Pengantar:Ilmu Komunikasi.Karunia Indah: Bogor
Wisudawati, Anita Martha.2005. Dalam Skripsi: Pengaruh Komunikasi Intern terhadap Semangat
Kerja
Pegawai pada Dinas Pendidikan dan Sosial Jawa Tengah.Skripsi: Semarang
Kusuma, Linda. 2008. Dalam Skripsi: Pengaruh Gaya Kepemimpinan yang Otoriter terhadap Daya
Juang Para Karyawan di PT. *******************. Skripsi: Depok
Wijaya, Anton Kusuma. 2002. Pengantar: Bagaimana Cara Anda Mempengaruhi Bawahan sebagai Pemimpin?.
Karya Sucipta: Malang
Tamalee, Kitima.2007.Dalam Thesis:Business Strategy, Leadership Styel, Their Fits and
Performance of Manufacturing Firsm in Thailand. Thesis:Malaysia
http://pustaka.unpad.ac.id/archives/125727/